Penulis: Rena Dwi Astuti
Drama Korea When Life Gives You Tangerines yang tayang di platform streaming Netflix jadi salah satu drama yang banyak dibicarakan di media sosial. Drama ini mengambil latar kehidupan masyarakat Pulau Jeju sekitar tahun 1950-an dan 1970-an.
When Life Gives You Tangerines berfokus pada perjalanan hidup dua karakter utama, Ae Sun (yang diperankan oleh IU) dan Gwan Sik (diperankan Park Bo Gum). Drama ini mengangkat kisah tentang dua pasangan tersebut dalam menghadapi ekspektasi masyarakat, cinta yang abadi, dan pencarian jati diri.
Selain karena kisah yang menyayat hati penontonnya, When Life Gives You Tangerines juga menarik perhatian karena keindahan lokasi syuting di Pulau Jeju. Tidak hanya itu, budaya masyarakat di Pulau Jeju yang diadaptasi dalam drama ini juga menjadi daya tarik tersendiri.
Sama seperti drama-drama Korea pada umumnya, drama When Life Gives You Tangerines juga menyuguhkan budaya masyarakatnya yang kental dengan pesona lanskap lokasi syuting yang memanjakan mata. Ditambah sinematografi yang epik membuat When Life Gives You Tangerines menjadi tontonan yang tidak hanya emosional, tetapi juga menghibur dan sarat akan budaya.
Pulau Jeju sendiri menjadi salah satu destinasi ikonik di Korea Selatan. Tidak hanya dalam skala nasional, banyak turis internasional yang memilih Pulau Jeju menjadi destinasi wisata.
Pesona Pantai Gimnyeong
Drama When Life Gives You Tangerines mengangkat kisah pasangan Ae Sun dan Gwan Sik di dua periode waktu yang berbeda, 1950-an dan 1970-an. Di sekitar tahun 1950-an, masyarakat Pulau Jeju sangat bergantung pada laut.
Nah, untuk mengangkat budaya masyarakat Pulau Jeju ini, drama When Life Gives You Tangerines memilih Pantai Gimnyeong sebagai salah satu lokasi syutingnya. Pesona Pantai Gimnyeong begitu indah dengan pasir putih yang halus dan air laut berwarna zamrud.

Drama When Life Gives You Tangerines juga menggambarkan kondisi masyarakat Pulau Jeju saat itu. Di mana perempuan harus bekerja sebagai Haenyeo. Yaitu penyelam wanita yang mencari hasil laut tanpa alat bantu sama sekali.
Pesona Pantai Gimnyeong juga digambarkan menjadi tempat yang sangat emosional. Adegan karakter Ae Sun yang menunggu ibunya —yang merupakan seorang Haenyeo— di pinggir pantai. Adegan ini menjadi sangat emosional karena atmosfer dari suasana Pantai Gimnyeong yang diambil dengan sinematik yang baik.
Budaya Patriarki di Tahun 1950 dan 1970-an
Salah satu aspek yang menarik dalam drama When Life Gives You Tangerines adalah mengangkat budaya masyarakat di Pulau Jeju. Pada periode 1950-an dan 1970-an, budaya patriarki sangat melekat kuat dengan masyarakat Korea, termasuk di Pulau Jeju.
Hal itu dikisahkan lewat tiga generasi perempuan pada keluarga Ae Sun. Nenek dan Ibunya merupakan seorang Haenyeo. Sehingga dua wanita itu menginginkan Ae Sun untuk mengikuti jejaknya sebagai penyelam wanita untuk meneruskan generasi dan menghidup keluarga.

Saat itu, akses pendidikan juga terbatas untuk masyarakat Jeju. Ae Sun menjadi salah satu anak perempuan yang beruntung karena berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.
Namun, konflik terjadi saat karakter Ae Sun berusaha memberontak dengan cara mengejar ambisinya sebagai penyair. Sikapnya ini dianggap bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat Jeju saat itu. Pada budaya patriarki yang ada di kalangan warga saat itu mengharuskan perempuan bersikap pendiam dan tunduk dengan aturan keluarga.
Drama When Life Gives You Tangerines ini juga menyuguhkan tantangan yang berbeda untuk perempuan dari tiga generasi yang berbeda. Di mana hal itu sangat relevan dengan perkembangan zaman seperti saat ini.
Seongsan Ilchulbong
Salah satu ikon yang paling menonjol dalam drama When Life Gives You Tangerines adalah Seongsan Ilchulbong atau dikenal dengan Puncak Sunrise. Ikon ini adalah salah satu tempat istimewa yang dikunjungi masyarakat Jeju untuk melihat matahari terbit saat momen pergantian tahun baru.

Lokasi ini terletak di puncak gunung yang berada di Pulau Jeju. Seongsan Ilchulbong adalah sebuah tempat yang terbentuk dari tumpukan 99 batu pahat yang membentuk mahkota dan terbentang padang rumput yang luas.
Banyak adegan dramatis, romantis, dan emosional diambil di Seongsan Ilchulbong. Sehingga membuat ikon di Pulau Jeju ini bertambah kesan emosional dan romantisnya.